Mereka adalah para ahli, peneliti, akademisi,pengambil kebijakan, dan praktisi industri dari berbagai penjuru negeri. Setelah tiga hari berturut-turut mengikuti serangkaian kegiatan konferensi dan kunjungan lapangan, mereke berkumpul Kembali untuk menghadiri acara penutupan “The 7th Geotourism Festival & International Conference 2026” yang mengambil tema utama “Where Earth's History and Indigenous Wisdom Intertwine" (Di mana Sejarah Bumi dan Kebijaksanaan Pribumi Bertemu). Adapun sub-tema yang dipilih untuk meng-kontektualisasi seminar adalah "Tracing Toba Ash Diaspora & Empowering Indigenous Community" (Menelusuri Diaspora Abu Toba & Memberdayakan Komunitas Masyarakat Asli).
Delegasi dari Toba Caldera UNESCO Global Geopark berada di antara para pengunjung yang bersiap menunggu prosesi penutupan secara resmi itu. Mereka adalah General Manager Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark (BP TC-UGGp), Dr Azizul Kholis, Manager Divisi Pengelolaan Geologi, Geo-diversity, Bio-diversity dan Cultural Diversity BP TC-UGGp, Petrus Parlindungan Purba, Manager Divisi Edukasi, Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat BP TC-UGGp, Ovi Vensus Hamubaon Samosir, ahli budaya Batak, Prof Dr Robert Sibarani, ahli budaya Karo, Dr Jakmen Sinulingga, peneliti geologi di Kaldera Toba, Dr Dewarman Sitompul, serta praktisi dan inisiator UMKM, Berliana Purba.
Dari Indonesia, hadir juga Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Raja Ampat, Klasina Rumbekwan, dan penasihat Jaringan Geopark Indonesia (JGI), Farid Mohamad Zaini, yang juga adalah Presiden JGI periode sebelumnya.
Sebelum penutupan dilakukan di tepian Resort Tasik Raban ini, rangkaian acara Geofest 2026 sendiri telah dimulai di dua wilayah UNESCO Global Geopark (UGGp) lainnya, yaitu Pra-Acara di Raja Ampat (8-10 Juni 2026) dan Acara Utama di Kaldera Toba (1-5 Juli 2026). Tahun ini Lenggong UGGp menerima mandat untuk melaksanakan Pasca-Acara. Kegiatannya dilaksanakan di Hotel Impiana, Ipoh, selama dua hari untuk konferensi internasional, panel ahli, lokakarya, dan forum jejaring (21-23 Juli). Sedangkan kunjungan lapangan dilakukan di Kinta Geopark dan berbagai geosites, galeri geologi, dan museum arkeologi di Lembah Lenggong (23-24 Juli).
Bagi Perak sendiri, ini adalah pengalaman pertama terpilih menjadi tuan rumah bagi perhelatan yang terhormat ini. Membawa nama besar UNESCO, kegiatan empat hari ini berfokus pada diskusi yang berkisar pada pembangunan wisata geologi, dan konservasi warisan geologi. Keduanya memerlukan suatu titik kompromi yang jelas agar kepentingan ekonomi dan konservasi dapat disandingkan dengan selaras.
Rangkaian pemaparan akademik dari Indonesia dan Malaysia juga membahas dengan tajam isu-isu tentang sustainable development, hak dan peran indigenous people (orang asli) dalam konservasi dan keterlibatan mereka dalam pengelolaan warisan geologi, isu kekayaan hayati, geotrails, and pemberdayaan sosial.
Sambutan kunci disampaikan oleh peneliti dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Profesor Emeritus Dato’ Dr Ibrahim Komoo, yang mengetengahkan suatu paparan berjudul “Understanding Fundamental: Geotourism or Geological Tourism”. Dalam kesempatan tersebut, guru besar yang juga menjadi Wakil Ketua di UNESCO GGN Council ini mengulas kembali persoalan mendasar yang membedakan antara makna geotourism yang tidak mesti dilakoni oleh para geolog, dan makna geological tourism yang memang memerlukan penjelasan dari para ahli geologi.
Pembicara lainnya adalah Associate Professor Dr Mohd Roslan Rosnon, seorang antropolog dan ahli sosiologi dari Fakultas Ekologi Manusia, Universiti Putra Malaysia (UPM), dan Profesor Dr Robert Sibarani dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Adapun dari sisi geologi, hadir Profesor Dato’ Dr Mokhtar Saidin, seorang peneliti geologi dan arkeologi, Dr Dewarman Sitompul, seorang ahli warisan geologi, dan Dr Rapidah Mat Stafa, seorang ahli konservasi geologi.
Sebelumnya, Menteri Besar (setara gubernur) Perak, Dato’ Seri Saarani Mohamad, menyapa dan memberi sambutan kepada seluruh delegasi yang hadir pada kesempatan acara makan malam resmi dan pembukaan The 7th Geotourism Festival & International Conference 2026 di Hotel Impiana Ballroom.
Kepada para undangan dan peserta konferensi, Saarani mengatakan bahwa Lenggong UGGp telah resmi menyandang pengakuan dari UNESCO melalui kekuatan lanskap geologi, kekayaan hayati, dan warisan arkeologi Lembah Lenggong yang bernilai sejarah hingga ratusan ribu tahun silam.
“Lenggong telah menggabungkan warisan arkeologi kelas dunia dengan geologi, kekayaan hayati, budaya, dan kehidupan masyarakat di kawasan yang menawarkan nilai-nilai edukasi, penelitian, dan wisata. Keterlibatan masyarakat merupakan pondasi dari usaha ini. Kehadiran para pengunjung nantinya akan menciptakan peluang bagi pengelola homestay, penyedia makanan, pembuat kerajinan, pengelola perjalanan, para pemandu wisata, UMKM, dan para anak muda, yang diharapkan semuanya terdiri dari warga lokal sendiri,” katanya.
Yang cukup menarik dalam sesi presentasi para ahli adalah ketika studi geologi menjelaskan tentang sebaran material letusan gunung api purba Toba yang jejak abunya ditemukan secara signifikan di wilayah Lembah Lenggong, Malaysia. Studi itu juga menjelaskan berbagai teori letusan gunung Toba dan bagaimana proses penyebaran debunya yang cenderung ke arah barat. Profesor Mokhtar dan Dr Dewarman berbagi peran dalam memaparkan peristiwa geologi yang mengubah wajah dunia 74.000 tahun lalu itu. Bila Prof Mokhtar membahas dampak dan sebaran letusan gunung Toba sebagaimana temuan yang dia tunjukkan di Lembah Lenggong, maka Dr Dewarman mengajukan mekanisme letusan yang membentuk Kaldera Toba. Kedua rekan geolog dari negara berbeda itu ternyata sama-sama jebolan UKM, yang juga sama-sama memberikan perhatian khusus pada sejarah letusan gunung Toba.
Dalam kesempatan ini, para praktisi geopark dan akademisi budaya diberikan kesempatan untuk berbagi konsep dan pengalaman dalam pengelolaan geopark. Dr Azizul Kholis selaku General Manager BP TC-UGGp mengusung judul presentasi “Keharmonisan Masyarakat Adat & Keberagaman Geo-Bio-Cultural”. Disusul oleh Penasihat JGI Farid Mohamad Zaini dan ahli kebudayaan Karo, Dr Jakmen Sinulingga dengan tema spesifik masing-masing. Farid menggugah para peserta dengan mengingatkan bahwa masyarakat lokal merupakan penjaga pertama kawasan geopark. Pelestarian, menurutnya, tidak pernah lahir hanya dari regulasi, melainkan dari rasa memiliki terhadap tanah tempat kehidupan bertumbuh. Sedangkan Dr Jakmen menjelaskan pentingnya membangun jejaring geowisata lintas negara agar generasi muda memiliki ruang kolaborasi dalam mengembangkan inovasi berbasis warisan bumi.
Setelah menyelesaikan sesi konferensi, seluruh peserta dipandu untuk melakukan kunjungan lapangan (field trip). Objek kunjungan meliputi situs-situs geologi eksklusif dan cagar budaya prasejarah yang diakui dunia. Rangkaian rute perjalanan lapangan tersebut meliputi Klaster Arkeologi dan Prasejarah Dunia di Kota Tampan berupa Galeri Geopark dan Museum Arkeologi Lenggong, klaster eksplorasi formasi batuan kapur karst kuno yang meliputi Gua Kajang (gua pertama yang dieksplorasi arkeolog) serta Gua Gunung Runtuh, lokasi penemuan fosil manusia prasejarah utuh tertua di Asia Tenggara, yaitu Perak Man, serta klaster geologi dan jejak vulkanologi purba yang meliputi debu vulkanik gunung Toba. Yang terakhir ini merupakan destinasi inti yang sesuai dengan sub-tema konferensi. Delegasi meninjau langsung lapisan tanah yang membuktikan sebaran abu vulkanik super dahsyat akibat letusan gunung Toba purba di Sumatera.
Selain itu, dilakukan juga peninjauan ke Gua Badak untuk menyaksikan batuan marmer purba (marble) sekaligus melihat lukisan dinding gua kuno asli karya suku pribumi Negrito. Klaster geo-bio-culture dan komunitas lokal ditelusuri ke “Mini Amazon” Kampung Beng. Di sini didapati keanekaragaman hayati perairan tawar dengan menggunakan perahu tradisional. Dan yang terakhir adalah kunjungan budaya langsung ke pemukiman masyarakat adat setempat untuk melihat implementasi pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal.
Berliana Purba, praktisi dan inisiator pemberdayaan UMKM di Kaldera Toba, menyatakan, pengakuan Toba Caldera sebagai UNESCO Global Geopark telah membuka peluang bagi berkembangnya produk-produk lokal yang lahir dari identitas kawasan. Saat ini, Berliana sedang mempersiapkan festival kopi internasional yang digelar di Kaldera Toba. Pengasas tujuan wisata Seribu Gua di Humbang Hasundutan ini juga melihat pentingnya memahami kedudukan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan geopark, sehingga pemberdayaan melalui pariwisata dan indutri kreatif adalah blueprint yang harus dikerjakan.
“Melalui pengembangan geoproduk kopi toba dan teh simarbosibosi, saya telah merasakan manfaat nyata dari jejaring geopark dunia. Produk kopi yang saya kembangkan telah dipilih oleh PT Fresh Vegetable Market Ltd. untuk menjadi bagian dari portofolio produk perusahaan tersebut,” sebutnya.
Berliana juga mengusulkan agar ke depan setiap geopark seharusnya memiliki geomart, yaitu ruang yang memasarkan geoproduk masyarakat setempat kepada dunia. Tidak hanya kerajinan tangan, tetapi juga geofood, sajian kuliner yang memanfaatkan kekayaan alam dan budaya kawasan geopark.
“Peluangnya sangat besar di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat dunia terhadap produk-produk alami dan berkelanjutan, wellness tourism, dan gaya hidup back to nature,” katanya.
Pada akhirnya, pemimpin yang dinanti pun tiba di Tasik Raban. Timbalan Menteri Dalam Negeri Perak sekaligus Ahli Parlimen Lenggong, Datuk Seri Dr Shamsul Anuar Nasarah, menyampaikan ungkapan penghargaan dan terimakasih kepada seluruh panitia dan peserta. Selepas itu, dia secara resmi menyatakan bahwa The 7th Geofest 2026 ditutup.
Bersamaan dengan itu, sebuah event lain justru sedang bermula di tempat yang sama, yaitu Lenggong Outdoor Festival 2026 (ODF26) yang akan berlangsung dari 24 hingga 26 Juli 2026. ODF sudah dikenal sejak tahun 2022, dan memberikan ruang bagi berbagai aktivitas dan eksibisi perlengkapan outdoor. Manajemen Lenggong Geopark telah turut mendorong kegiatan outdoor melalui acara trekking serentak ke berbagai geosites yang ditetapkan. (*)

















.jpg)

.jpg)

